Hallo suhu semua, izinkan aku posting cerita ya.
cerita ini bukan aku yang buat, tapi seseorang yang di samarkan namanya dengan nama "andri" aku dan dia jadi tokoh utama dalam cerita ini, kejadian dan tempat real adanya.
cerita ini hanya 20%nya saja yang kejadian nyata selebihnya hanya fiksi murni khayalan si andri, dan akupun dapat cerita ini setelah lama aku tak bertemu dengannya dan kebetulan kembali terhubung lewat medsos.
Jika ada yang nanya kenapa aku yang posting? si andri bilang biar lebih seru kalo cewe yang posting, tapi menurutku itu modus dia aja supaya bisa tetap terhubung denganku dan ngutarain fantasi-fantasi gilanya tentang aku. soryy ya endri hehehehe.
entah apa yang akan terjadi pada kita jika bisa ketemu lagi, karena pada pertemuan pertama kita dia terkesan anak yang baik dan pendiam. eh ternyata dibalik itu semua dia punya fantasi gila. hahaha.
semoga kalian terhibur ya.
***
Malam itu Aku muter-muter gak tentu arah, menembus udara bogor yang dingin. Aku segan pulang kerumah kontrakan karena disana ada istri dan anak teman satu kontrakanku mas Yosep. Bukan berarti Aku gak suka kehadiran keluarga mas yosep, tapi gak enak aja harus berada bersama sepasang suami istri yang mungkin saling melepas rindu.
Namaku Andi, sudah hampir satu tahun Aku ngontrak bersama mas Yosep yang sekaligus senior ditempat kerja, tentu saja Aku banyak berhutang budi pada mas Yosep karena dialah mentor ditempat kerja sekaligus orang yang menawariku tempat tinggal saat kebingungan nyari kontrakan.
Maklumlah sebagai anak kampung yang baru lulus sekolah, aku masih meraba-raba untuk hidup di kota.
Oiya satu lagi kebaikan mas yosep adalah, aku bayar sewa kontrakan lebih sedikit paling hanya tiga puluh persennya saja sisanya dia yang bayar, kurang berhutang budi gimana coba.
Makanya malam itu Aku ngerasa gak enak mau pulang, karena takut ganggu mas Yosep dan istrinya emba Lilis yang mungkin sedang melepas rindu. Kesehariannya emba Lilis tinggal di Cianjur dan mas Yosep hanya pulang tiap akhir pekan saja, sebagai seorang lelaki yang beranjak dewasa tentu saja Aku paham apa yang mungkin akan mereka Lakukan untuk saling melepas rindu.
Tepat jam sebelas malam akhirnya aku pulang karena gak tau lagi harus kemana, mau nginap dikontrakan teman, tapi temen deket lagi pulang kampung akhirnya terpaksa aku mutusin pulang, dari pada terus luntang-lantung gak tentu arah.
Tepat jam dua belas malam Aku sampai dirumah kontrakan,dan mendapati kondisi rumah yang gelap karena hanya lampu luar saja yang nyala. Memang kebiasaan mas Yosep selalu mematikan lampu saat hendak tidur, dengan kondisi itu Aku merasa lega karena kemungkinan mas Yosep dan keluarganya sudah tidur.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati Aku membuka kunci pintu rumah, karena gak mau bikin kegaduhan bahkan saat masukin motorpun sengaja mesinnya ku matikan.
Sebenarnya rumah kontrakan yang aku dan mas yosep tempati cukup lega. Ada satu ruangan didepan yang berfungsi untuk menyimpan motor, dua kamar tidur, ruang tengah untuk nonton TV, dapur dan kamar mandi.
Namun entah kenapa Aku canggung saja saat harus berhadapan dengan emba Lilis, mungkin karena istri seniorku itu berparas cantik dengan bentuk tubuh sempurna menurutku.
Dengan langkah perlahan Aku berjalan menuju kamarku yang berhadapan perisis denga kamar mas yosep. konidisi ruangan gelap karena nyaris semua lampu dimatikan, hanya lampu kamar mas yosep saja yang masih menyala. Mungkin karena anaknya mas yosep yang baru berumur lima tahun gak suka tidur dalam kedaan gelap.
Akhirnya Aku bisa masuk kamar dengan perasaan lega, karena sangat yakin mas yosep dan keluarganya sudah tidur pulas.
Namun saat aku membuka pintu kamar dan menyalakan lampu, aku melihat sebuah pemandangan yang hampir membuat jantung berhenti berdetak.
Tepat diatas kasur aku melihat sepasang manusia dalam keadaan telanjang bulat sedang berasyk masuk, tentu saja mereka mas Yosep dan istrinya emba Lilis.
Aku tertegun diambang pintu kamar, dengan jantung yang berdebar begitu kencang, bagaimana tidak untuk pertama kali dalam hidup aku melihat langsung sebuah adegan tabu yang selama ini hanya bisa di lihat lewat layar hp atau laptop.
Saat itu emba Lilis sedang bergoyang diatas tubuh mas yosep, sungguh sebuah adegan erotis yang begitu indah dan rasanya tak akan pernah bisa ku lupakan. Tubuh telanjang emba lilis begitu bersih dan mulus tampak mengkilat oleh keringat, bergoyang bahkan meliuk-liuk diatas tubuh mas yusep. Tentu saja aku merekam dengan jelas tubuh indah istri seniorku itu, terutama bagian pantat yang tampak membulat dan menggemaskan.
“Eh,,, Dri….!”
Seru mas yosep kaget saat tiba-tiba lampu nyala.
Sementara emba Lilis terus saja menggoyangkan pinggulnya sambil mengerang dan mendesah, seolah tak memperdulikan kehadiranku.
“Mah….!”
Mas Yosep menegur emba lilis, yang terus saja bergoyang sambil sesekali menoleh padaku.
“Tanggung… Arghhhh….!”
Jawab emba lilis diikuti tubuhnya yang melengking indah, sebelum akhirnya ambruk diatas mas yosep.
Sumpah merinding banget liatnya, gak nyangka emba lilis yang terlihat kalem bisa begitu liar.
“Dri… sory gue make kamar elo ga izin.”
Kata Mas yosep sambil beranjak dari atas kasur dengan tubuh telanjang.
Aku langsung malingkan muka karena jengah jika harus melihat ketelanjangan yosep,namun karena hal itu aku malah disuguhi tubuh telanjang emba lilis.
“Soory ya Dri..!”
Seru emba Lilis, sebelum dia keluar kamar.
Walaupun hanya beberapa detik saja, aku bisa melihat dengan jelas dua buah melon kenyal yang bergelantung indah dia dada emba lilis, dan tentu saja sebuah gundukan daging diselangkangannya yang terlihat sekilas dan membuatku penasaran.
Gara-gara kejadian tak terduga itu aku gelisah, karena masih jelas tergambar dalam ingatan tubuh telanjang emba lilis yang bergoyang erotis. Kegelisahanku bertambah parah saat menemukan sebuah kain berbentuk segitiga dengan warna merah muda tergeletak pasrah tepat disamping kasur.
Aku langsung ngambil kain itu yang ku yakini celana dalam emba lilis, tanpa sadar kain merah mudah itu sudah berada dihidungku dan terciumlah sebuah aroma yang seketika membuat darah mendidih.
Sontak saja semua itu membuaku hilang kendali, hingga akhirnya aku menanggalkan semua pakaianku tanpa sisa, lalu telantang diatas kasur dan mengelus-elus sebuah benda diselangkanganku yang sudah berdiri tegak sambil sesekali mencium celana dalam emba lilis.
Sensasi yang kurasakan benar-benar dahsyat tentu saja karena aroma yang kucium dari celana dalam emba lilis, dan membayangkan lagi tubuh telanjangnya.
“Dri…!”
Seketika aku dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu.
Sudah pasti aku ketangkap basah sedang coli dan parahnya lagi aku dalam kondisi telanjang bulat.
“Eh… Embaa…!”
Aku langsung beranjak dari kasur dan berusaha menutupi tubuh telanjangku.
Yups yang tiba-tiba masuk kamarku emba Lilis, orang yang beberapa detik yang lalu ku jadikan objek fantasi.
“Sorryy… ganggu..”
Katanya, dan tersenyum penuh arti. Membuatku malu semalu-malunya.
Ajaibnya emba lilis tampak biasa saja, seolah dia gak terlalu perduli dengan ketelanjanganku. Sementara aku dibuat salah tingkah apalagi emba lilis saat itu cuman make baju tidur transparan dan sangat pendek sekali.
“Emba cuman mau nyari celana dalem liat ga?”
Arghh… sial celana dalam emba lilis sudah pasti sedang ku pegang, dan berada tepat diselangkangannku.
“Ih… itu ya!”
Serunya, sudah pasti dia nunjuk kearah selangkanganku.
Aku pasrah saja karena gak bisa ngelak lagi. Sumpah muka rasanya panas banget saking malunya.
“Sini balikin…!”
Tiba-tiba emba lilies menarik celana dalam yang masih dalam genggamanku, membuatku makin salah tingkah. Mau tak mau karena hal itu selangkanganku jadi tereskpos dihadapannya.
“Duh.. kasian jadi lemes gitu…”
Ledek emba lilis karena melihat sebuah benda diselangkanganku yang tampak menciut.
Saat itu entah disengaja atau tidak ada sedikit sentuhan tangannya pada selangkangaku yang seketika menghasilkan efek yang luar biasa.
“Ih langsung ngaceng, xixixixixi”
Emba lilis tekekeh, saat melihat sebuah benda diselangkanganku yang tiba-tiba bediri tegak.
“Baru disenggol langsung ngaceng…!”
Tambahnya, lalu balik kanan dan meninggalkanku yang panas dingin.
Aku yang udah kehilangan akal sehat, kembali mengelus-elus sebuah benda diselangakanku yang semakin keras. Sambil melihat pantat emba lilis yang bergoyang indah seirama langkah kakinya.
Aku yakin dibalik baju tidur itu tak ada lagi kain yang dia pakai, karena bulatan pantatnya yang gempal tercetak begitu jelas.
Diambang pintu kamar tiba-tiba dia berhenti dan seketika menolah padaku, sudah pasti untuk kedua kalinya aku ketangkap basah sedang coli. Namun kali ini aku tak menghentikan aksiku, malah aku coba beranikan diri tetap coli sambil menatap wajanya yang cantik.
Tanpa ku duga, dengan sadar emba lilis menarik bagian bawah baju tidurnya sampai pinggang seolah sengaja memamerkan bongkahan pantatnya padaku. Dan benar saja dibalik baju tidur itu dia tak memakai apapun lagi.
Sontak saja birahuku semakin meledak-ledak, Karena didepan mataku terpampang dua bongkahan pantat gempal yang menggemaskan.
Aku semakin mempercepat kocokan tanganku, apalagi saat melihat jemari emba lilis mengelus-elus bahkan sesekali meremas bongkahan pantat mulusnya.
Melihat emba lilis yang seolah sengaja menggodaku, aku memberanikan diri melangkahkan kaki selangkah demi selangkah mendekatinya. Walaupun tiap langkah yang ku lakukan membuat jantungku berdetak semakin capat, hingga nyaris saja aku kesulitan mengatur nafas.
Entah mungkin keberanianku itu menimbulkan efek yang serupa pada emba lilis, karena dengan sadar dia menungingkan pantatnya, hingga pantat bulat itu terlihat semakin indah dihadapanku bahkan jemari tangannya perlahan namun pasti mengelus-elus area selangakangannya.
Hingga akhirnya akupun berada sangat dekat dengan emba lilis, malah kepala kontolku hanya berjarak beberapa centi saja dari bongkahan pantatnya.
Sumpah jantungku berdegup kencang tak beraturan, ingin rasanya aku meremas pantat gempal itu,
Dan dari posisi itu memek emba lilispun tepampang jelas dihadapanku. Mungkin hanya butuh satu dorongan saja batang kerasku mampu menerobos sebuah lubang yang kata orang begitu nikmat.
Namun keberanianku tak cukup banyak untuk melakukan hal itu, bahkan sekedar meremas bongkahan pantatnyapun aku tak punya keberanian.
Hingga akhirnya aku hanya bisa mengocok batang kontolku sendiri, sambil menyaksikan emba lilis yang mencolok-colok memeknya dengan jari jemarinya.
Entah mungkin emba lilis gemas, atas ke bodohanku yang tak berani berbuat lebih, akhirnya pinggulnya bergerak maju mundur, karena gerakan itu pantatnya sesekali menyentuh kepala kontolku.
Gila, sensasi sentuhan kepala kontolku dengan bongkahan pantatnya yang empuk sungguh nikmat. Sialnya hal itu membuat pertahananku jebol dan tak kuasa menahan ledakan lahar panas yang memancar deras bahkan mengenai bongkahan pantat emba lilis.
Emba lilis menatapku penuh arti, semenatara aku buru-buru melepaskan cengkramanku pada bongkahan pantatnya.
Yups mungkin saking enaknya saat orgasme tanpa sadar jemari tangan kananku meremas bongkahan pantat emba lilis sungguh benar-benar halus dan kencang.
Lalu dia tersenyum padaku sebelum merapihkan pakaian dan berajalan keluar kamarku menuju kamar mandi.
Sesaat sebelum menutup pintu kamar, aku sempat menoleh ke kamar mas yosep dan ternyata pintu kamarnya terbuka lebar dan terlihat mas yosep sedang tidur pulas.
Gila, berarti kegilaan yang barusan terjadi bisa saja disaksikan mas yosep jika saja dia gak tidur.
***
“Dri mau kemana?”
Tanya emba lilis, saat aku hendak keluar dari rumah. Saat itu sekitar jam setengah enam pagi.
“Mau jogging emba..”
Jawabku, sebenarnya itu alasanku saja supaya tak bertemu dengan emba lilis karena kejadian semalam membuatku salah tingkah saat berhadapan dengannya.
“Ikut dong, sambil nyari sarapan”
Argh… entah aku harus bagaimana, yang bisa ku lakukan hanya menganggukan kepala.
“tunggu bentar ya.”
Katanya sebelum masuk kamar.
Selang beberapa menit kemudian dia keluar dengan hanya memakai celana lejing pendek ketat, dipadu kaos bola kelonggaran. Setauku kaos bola itu punya mas yosep, dan sekilas emba lilis tampak seperti tak memakai celana jika bagian bawah kaos itu tak diikat dipinggang.
“Duh, emba jalan santai aja ya gak bawa sepatu kets”
“hadeuh, ngapain dong ganti baju..”
Gumamku dalam hati.
“mas yosep gimana?”
Tanyaku, karena khawatir nanti nyariin.
“tenang aja masih pules dia mah sama si andika..”
“cuss yuck…”
Sial denger kata cuss, memori kejadian semalam langsung terbayang lagi. Auto konak deh.
“Ih… ngapain..!”
Ledek emba lilis, yang melihatku merubah posisi batang yang tak nyaman gara-gara konak mendadak.
“Eh… iiituuu embbaaa…”
Aku gelagapan gak mampu ngejawab.
“Hayoooo pagi-pagi mesum…”
Ledeknya lagi.
Aku diam saja, karena tak mampu mengelak.
“kontol kamu gede juga ya, kira-kira muat di memek emba ga ya?”
Seketika langkahku berhenti, jujur saja gak nyangka kata-kata sefulgar itu bisa diucapkan emba lilis.
“ahhahahaha biasa aja dong, ampe syok gitu..”
Emba lilis terpingkal-pingkal, entah apa yang dia tertawakan. Dia gak tau apa jantungku hampir copot karena ucapannya.
“Sory Dri becanda..”
“sory juga semalem emba godain kamu..”
Tambahnya, sambil tersenyum manis.
“emba sengaja ya, ngelakuinnya didepan mas yosep yang lagi tidur..?”
Aku memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan yang dari semalam berputar-putar dikepala.
“Hmmmm Gimana ya..”
“Jujur emba punya fantasi, pengen di grepe-grepe sama cowo lain didepan suami.”
Ah gila pengakuan yang, membuatku kontolku makin ngaceng.
“plis jangan bilang-bilang mas yosep yah, dia belum tau”
“emba cuman berani ngomong sama kamu.”
“Kamu bisa jaga rahasiakan?”
Katanya, setengah berbisik.
“eh.. Iiyyyaa embbaaa…”
Jawabku terbata-bata.
“kamu pasti mikir emba aneh ya, punya fantasi kaya gitu?”
Seru emba lilis, tampak murung seperti dia menyesali apa yang telah dia utarakan.
“engga ko, emba sexy..”
Jawabku.
“Ih… apa sih ga nyambung…”
Tiba-tiba emba lilis mencubit perutku, sontak aja aku mengerang kesakitan.
Akhirnya acara jogging buyar, dan kita hanya jalan santai disekitar komplek perumahan sambil nyari tukang bubur ayam.
“Sepi yah disini…”
Tanya emba lilis, sambil berjalan selangkah lebih cepat didepanku.
Tentu saja hal itu membuatku bisa melihat bongkahan pantatnya yang bergoyang indah.
“namanya juga perumahan baru, rumahnya belum banyak ke isi”
Jawabku, dengan mata tetap tertuju pada pantat emba lilis.
“Matanya tolong ya…!”
Entah dia marah atau meledek, tapi dari kerlingan mataya sepertinya dia hanya mempermaikanku saja.
“Sory emba, habis penasaran, emba pakai cd atau engga…”
Balasku.
“Berani ya sekarang?”
Laganya, seperti marah.
“cuman penasaran aja ko..”
Jawabku, berusaha sepolos mungkin.
“Yaudah pastiin kalo penasaran…”
Tiba-tiba dia berhenti melangkah, dan menatapku dengan tatapan tajam.
Sial, sepertinya dia menantangku atau mungkin hanya mempermainkanku saja.
Maka aku memberanikan diri mendekatinya walaupun debaran jantung tak beraturan, dan beruntung kita berada ditempat yang cukup sepi.
“eh…”
Seru emba lilis ketika kedua tangaku meremas bongkahan pantatnya, namun tak sekalipun dia berusaha mengelak atau menghentikan perbuatan tak senonohku.
“Gimana, pake ga?”
Tanya emba lilies sedikit mendesah, karena aku meremas-remas bongkahan patatnya yang begitu halus dan kenyal.
“belum tau emba..”
Jawabku, dan masih meremas.
“pastiin dong….hmmmm”
Balasnya, seolah memprofokasiku untuk berbuat lebih.
Akhirnya jemari tangan kananku menelusup kedalam celana lejing ketatnya.
Sebenarnya tanpa melakukan hal itupun aku sudah tau, emba lilis memakai celana dalam namun tentu saja aku tak mau momen itu berhenti bergitu saja.
“Ugh….”
Erangnya, saat jari tengahku mengelus-elus permukaan memekmya yang terasa basah.
“udah tau dong…!’
Kembali dia bertanya, disela erangannya.
“Masih belum emba…”
Tentu saja aku kembali menyangkal, apalagi jari tengahku sudah berhasil menerobos kedalam lubang yang hangat dan licin.
“argh….. cepetan pastiin….”
Entah itu sebuah permintaan atau perintah, yang pasti aku meresponnya dengan menurunkan celana lejing ketat itu beserta celana dalam yang dia pakai.
Tanpa perlawanan kedua kain itu meluncur dan jatuh ditanah, tentu saja hal itu tak ku sia-siakan begitu saja. Selangkanganku langsung ku tempelkan pada bongkahan pantatnya yang kini tanpa penghalang.
“Ughh… Dri…”
“ko emba malah diginiin sih…!”
Erang emba lilis, sambil menggerak-gerakan pinggulnya merespon tiap kocokan jari tengahku dimemeknya.
Walaupun masih terhalang cd dan kolor yang kupakai, gesekan antara batang kontolku dengan pantat emba lilis terasa begitu nikmat. Namun tentu saja aku menginginkan lebih dari itu.
Maka akupun menurunkan celana kolor sekaligus cd yang kupakai, hingga batang kontolku terbebas dari sarangnya.
Efek yang dihasilkan dari pergesakan langsung antara batang kontolku dan bongkahan pantatnya sungguh nikmat, hingga aku lupa diri dan berusaha menakan kepala kontolku pada celah memeknya.
“Eh….. mau ngapain..”
Tiba-tiba emba lilis memutar badan hingga dia terlepas dari dekapanku dan menjauh selangkah.
“maaa… Mauuuu.”
Kembali aku auto gagap, karena tak menyangka responnya akan seperti itu.
“Dri, jangan dimasukin ya..!”
“Emba belum siap kalo kontol kamu masuk ke memek emba..”
Sumpah aku bingung dibuatnya, padahal tadi itu hampir saja kepala kontolku menerobos lubang hangat emba lilis.
“Jaaadii giimana emba..”
Tanyaku kebingungan, padahal birahi sudah diubun-ubun.
“Digesekin aja ya, tapi entar jangan disini.”
Lalu emba lilis kembali memakai cd berserta lejing ketatnya.
Buyar sudah, padahal dikit lagi ngerasain ngentot.
Umpatku dalam hati.
Walapun cukup dibuat kesal namun tentu saja aku hanya bisa menurut, karena jika memaksa takutnya akan menimbukan masalah.
Maka akhinya kami melanjutkan jalan santai, sambil ngobrol ringan dan nyari tukang bubur ayam.
Selama perjalanan itu kami sangat intin selayaknya sepasang kekasih, bahkan aku tak sungkan lagi meremas bongkahan pantatnya.
Hingga akhirnya kami nemu tukang bubur didepan gerbang perumahan.
Lalu kita mesan bubur dibungkus empat porsi, namun sepertinya si amang bubur ga fokus bikin pesanan karena sesekali matanya ketangkap basah melototin emba lilis yang memang tampil begitu menggairahkan.
“Mang ati-ati loh salah masukin kacang…”
Umpat emba lilis yang gerah dengan aksi kang bubur.
“Ehh… iiiyyyaaa neng”
Jawabnya terbata-bata, mungkin kaget disemprot emba lilis. Yang emang kalo ngomong ceplas ceplos.
“kaya belum pernah liat cewe aja si amang..”
Tambah emba lilis.
“Kalo cewenya mulus kaya eneng mah jarang…”
Balas si amang cengengesan.
Berani juga nih kang bubur, udah tua masih genit aja.
Umpatku dalam hati.
“Masa sih mang, emang saya mulus ya?”
Sial, emba lilis malah ngeladenin tuh tukang bubur.
“iya neng kaya artis, kalo boleh amang minta poto nih bubur gratis deh.”
“Argh.. si amang artis dari mana sih…!”
Emba lilis tampak tersipu malu.
Yah cewe mana sih yang ga haus pujian, si kang bubur lihai juga.
“bener nih buburny gratis mang?”
Tanya emba lilis.
“iya atuh masa amang bohong..”
Jawab kang bubur, sepertinya antusias.
“Yaudah tinggal foto…”
Seru emba lilis.
tentu saja kang bubur kegirangan, dan dia merespon cepat dengan ngeluarin hpnya.
“Dri tolong potion dong..”
Argh sial, malah jadi tukang poto.
Sepertinya emba lilis ini punya sisi liar yang menarik, mau-maunya dia dipoto sama kang bubur hanya demi bubur gratis.
Tentu saja aku tak bisa nolak.
Lalu akupun moto emba lilis dan kang bubur yang berdiri bersampingan didedepan gerobak bubur.
“udah ya..!’
Kataku setelah ngambil beberapa poto.
“makasih ya neng potonya.”
Seru kang bubur spertinya dia senang sekali bisa dipoto sama emba lilis.
Emba lilis hanya tersenyum saja menanggapinya, lalu dia mendekatiku.
“Dri, kamu bawa hp kan?”
Tanya emba lilis, setengah berbisik.
“Bbbawa…”
Jawabku.
“fotoin lagi ya, emba sama kang bubur pake hp kamu tapi.”
“ambil gambar yang bagus ya”
Seru emba lilies, sambil mengedipkan sebelah mataya.
Glek, aku menelan ludah karena tenggorokan rasanya kering.
Entah kegilaan apa yang akan dia lakukan.
“mang.. poto lagi yuck, tapi pake hp saya.”
“Bbboleh neng..”
Saut kang bubur semangat.
Lalu emba lilis berdiri didepan gerobak bubur, dan ngambil mangkok seolah-olah mau bikin bubur.
kemudian dia ngarahin kang bubur supaya berada tepat debelakangnya.
Seolah belum cukup kegilaannya, dia membuat badannya sedikit condong kedepan, yang otomatis akan membuat pantat gempalnya terlihat menungging indah.
“pak pantat saya pegang aja gak apa.”
Jegeeerrr….!!!
Sumpah aku gemeteran, dengar instruksi emba lilis. Sementara kang bubur sudah pasti semangat dan langsung nurut tanpa banyak tanya.
“ambil gambar yang bagus ya…”
Seru emba lilis.
“ihh… pegang aja jangan diremes-remes…!”
Protes emba lilis, aku sih gak nyalahin kang bubur kalo akhirnya dia berani kurang ajar karena pantat bulat emba lilis memang menggemaskan.
Argh sial bikin gemas saja kelakuannya, untung aku lumayan suka fotografi maka aku ngambil poto dari view sabagus mungkin sambil berusaha mengendalikan debaran jantung yang tak karuan.
Setelah beberapa jeperetan aku mendekati emba lilis, dan memperlihatkan hasil fotoku.
“wah bagus banget dri, kamu punya bakat moto yah ternyata..”
Emba lilis sepertinya puas dengan hasil fotoku.
Sialnya saat momen itu tarjadi, badan si kang bubur masih nempel ke emba lilis bahkan tangan keriputnya masih nempel di pantat gempal kesukaanku itu bahkan sesekali dia meremasnya lembut.
Anehnya emba lilis cuek saja.
“sekali lagi ya dri..”
Pinta emba lilis yang sudah pasti tak bisa ku tolak.
Lalu aku kembali menjauh dari mereka untuk ngambil view yang bagus.
Emba lilis dan si kang bubur masih di posisi semula, padahal sebelumnya aku pikir dia mau merubah posis. Namun saat aku mau mulai moto tiba-tiba saja emba lilis melakukan sesuatu yang benar-benar gila.
Dengan kesadaran penuh dia melorotin celana lejing ketat sekaligus celana dalamnya, lalu meletakan begitu saja kedua kain tak berdosa itu disamping panci bubur.
Sontak saja si kang bubur terperanjak saking kagetnya, akupun tak jauh beda malah sampe bengong beberapa detik.
“Dri… cepetan foto..”
Emba lilis teriak sambil celingukan.
Sudah pasti dia merasa tak nyaman karena takut tiba-tiba ada orang mendekat, beruntungnya jalanan perumahan itu masih sepi.
Sementar si kang bubur tak menyia-nyiakan kesempatan didepan matanya, dengan gemas dia meremas-remas pantat gempal emba lilis yang tanpa penghalang bahkan menggesekan sesekali selangkanganya.
“Ih.. jangan digituin…!”
Protes emba lilis seolah tak nyaman dengan kelakuan nakal kang bubur, tapi tak ada aksi lebih seolah hanya penolakan dimulut saja.
Sumpah aku tak bisa fokus ngambil gambar karena tanganku gemetaran hebat.
“dri udah belum?”
Tanya emba lilies.
Aku menggelengkan kepala, karena tanganku gemeteran hebat hingga tak mampu ngambil gambar yang bagus.
Wajar saja aku seperti itu, karena didepan mataku ada seorang wanita cantik dengan kondisi setengah telanjang, sedang nungging didepan gerobak bubur dan dibelakangnya ada kang bubur tua yang sedang meremas-remas pantat gempal si wanita cantik itu.
Aku mengambil nafas panjang supaya lebih tenang, dan akhirnya bisa ngambil gambar yang bagus.
“Ok emba kata ku, sambil ngacungin jempol.”
Yang dijawab oleh emba lilis dengan mengacungkan jari telunjuknya, dan berkata sekali lagi.
Aku benar-benar tak habis pikir dengannya, bisa-bisanya wanita cantik dan anggun sepertinya berbuat segila itu.
Sebelum aku ngambil foto lagi, emba lilis tampak mengatkan sesuatu pasa si kang bubur dan beberapa detik kemudan si kang bubur melorotin celannya sendiri sekaligus celana dalamnya.
Gila… sumpah mereka berdua udah ga waras. Debaran jantungku rasanya makin cepat seolah mau meledak.
Aku celingukan kiri kanan takut ada yang lewat.
“Cepet Dri…”
Teriak emba lilis.
Yah aku cuman bisa geleng-geleng kepala saja.
Untuk kedua kalinya aku harus mengambil nafas panjang supaya bisa ngambil gambar yang bagus.
Memang aku sempat punya keinginan jadi fotografer,dan kalo bisa jadi fotorafer model sexy tak kusangka semua itu bisa terwujud begitu cepat, tapi yang tak pernah ku bayangkan sensainya begitu gila.
Kembali aku menyaksikan sebuah adegan absurd, dimana seorang wanita cantik setengah telanjang nungging didepan gerobak bubur dan dibelakangnya ada kang bubur tua sedang nempelin batang kerasnya tepat di belahan pantat wanita cantik itu. Seolah berisap untuk penetrasi.
Jika memang aku berbakat jadi fotografer, emba lilis sangat berbakat jadi seorang model karena ekspresinya begitu natur. Denga begitu rupa dia bisa menampilkan wajah binal yang aku yakin membuat laki-laki manapun blingsatan.
Lalu adegan berikutnya emba lilis tampak memegang batang keras kang bubur, sambil menoleh badanya.
Gila sebuah fose yang sangat cantik.
“udah embaaa..”
Aku sedikit teriak, dan berbegas mendekati emba lilis.
“sekali lagi Dri…!”
Pinta emba lilis, saat aku berada tepat dihadapannya.
Sialnya posisi emba lilis dan sikang bubur masih belum berubah.
“Poto dari deket ya..!”
Tambahnya, lalu setelah itu dengan bantuan tangan kanannya dia ngarahan kepala kontol si kang bubur diantara celah selangkangannya yang terbuka lebar apalagi dia semakin mencondongkan badannya kedepan.
Mungkin hanya butuh satu hentakan saja batang besar si kang bubur bisa menerobos kedalam lubang nikmat emba lilis.
Maka bergegas aku ngambil foto sebelum hal itu terjadi.
Foto kali ini lebih aku fokuskan pada batang keras si kang bubur yang terselip diantara celah selangkangan emba lilis, tentu saja pantat gempalnya tak ketinggalan.
Saat proses pengambilan foto si kang bubur menggerakan pinggulnya maju mundur, yang membuat benda keras miliknya keluar masuk diantara celah selangkanga emba lilis.
Sumpah ngeliat itu lagi-lagi aku merinding.
“Ttttaahan PPak..!”
Kataku, saat batang besar kang bubur hanya terlihat setengahnya saja.
Aku sempatkan noleh si kang bubur sumpah raut wajah ramahnya berubah jadi beringas, aku takut saja dia berbuat nekat.
“Argh…. Neng…!”
Tiba-tiba si kang bubur menarik pinggulnya kebelakang, dan muncratlah lahar panas kental miliknya menodai pantat dan kaki emba lilis yang mulus.
Tubuh si amang bubur bergetar bebarapa kali, dengan mata terpejam.
Sumpah aku geli ngilatnya.
“Ih… si amang baru kepalanya aja yang masuk udah ngecrot…!”
Ledek emba lilis sambil tersenyum simpul.
Lalu emba lilis mengelap sperma yang berceceran dipantat dan kakinya dengan kain yang biasa dipakai si amang bubur ngebersihin mangkuk, kemudian dia ngambil dua kain miliknya yang tergelatak tak berdaya dan mengajak ku pergi.
Tak lupa aku ambil empat porsi bubur yang dipesan tadi.
Sementara sia amang hanya bisa terduduk lesu, namun ratu wajanya tampak puas.
“gitu tuh aki-aki nafsu doang gede..”
Cletuk emba lilis, sambil dia memakai lagi celana dalam dan lejing ketat miliknya.
Aku tak merespon umpatan emba lilis itu, karena akupun belum tentu mampu bertahan lama jika hal itu terjadi padaku.
“Ko diem aja sih?”
Tanya emba lilis,
“habis tadi itu gila banget emba, kalo ada orang gimana coba!”
Kataku.
“tapi seru kan???”
“mana liat fotonya…!”
Jawabnya cuek.
Kemdian aku ngasih liat foto-foto gila yang aku ambil tadi.
“wah keren banget dri sumpah..!”
“kamu berbakat jadi fotografer..!”
Puji emba lilis, sepanjang perjalanan kami kembali kerumah kontrakan.
“Emba paling suka banget yang ini”
Lalu emba lilis ngasih liat sebuah foto, dimana dia sedang nungging didepan gerobak bubur dengan pantat telanjangnya yang terekspos jelas, sementara kang bubur tampak seolah berusaha memasukan kelapa kontolnya diantar celah selangkangan emba lilis.
Aku saja sampai merinding liatnya.
“tadi beneran ga masuk emba?”
Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulutku.
Seketika emba lilis berhanti melangkah, mungkin hanya beberapa metar saja dari rumah kontrakan.
“kan tadi emba bilang baru kepalanya doang…!”
Jawabnya sambil menatap lekat dua bola mataku.
“akuu boleh dong kaya gitu….!”
Seperti terhipnotis, hal itu membuatku semakin berani.
“nakal ya kamu, bilangin mas yosep nih…!”
Jawabnya, lalu dia kembali melangkah menuju rumah. Namun sebelum itu aku sempat melihat sebuah senyuman manis darinya. Mungkinkah itu sebuah pertanda?
***
“Lama banget sih mah…”
Teriak si andika nyambut kedatangan kami.
“Maaf ya tadi antri beli buburnya, nih sarapan dulu ya..”
Emba lilis ngasih satu porsi bubur untuk anaknya.
“Papah mana?”
“itu lagi mules katanya”
Jawab si dika tanpa noleh ibunya dan langsung nyantap bubur, kasian tuh anakany udah laper banget kayanya.
Lalu emba lilis berjalan kearah belakang dimana kamar mandi dan dapur berada.
“Pah… masih lama ga?”
Terdengar suara emba lilis manggil suaminya.
Sementara aku sedang asyk nyantap bubur bareng si dika, sambil nonton video dari yuotube.
“baru aja masuk”
Terdengar jawaban mas yosep, yang membuat ku reflek noleh kearah dapur.
Saat itu aku melihat emba lilis ngasih kode padaku supaya aku menghampirinya.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya aku nurut saja.
“Kena..”
Kata-kataku terputus karena emba lilis membekap mulutku, lalu dia mendorongku ke samping pintu kamar mandi dan dengan satu gerakan cepat dia membalikan badan hingga dia membelakangiku.
Bertuntung otak cerdas ku berpikir cepat, hingga aku paham apa yang dia inginkan.
Seperti yang penah di katakana padaku, emba lilis punya fantasi ingin digerepa cowo lain disamping suaminya, dan sepertinya itu jadi momen yang tepat.
Maka akupun yang mulai terbawa oleh kegilaannya tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Tanganku langsung bergerilnya menjamah tiap inci tubuh indahnya, dan untuk pertama kalinya aku bisa menyentuh bahkan meremas dua gundukan toket kenyal miliknya.
Sulit digambarkan perasaanku saat itu, birahi yang menggebu-gebu bercampur rasa takut ketahuan karena bisa saja si dika yang lagi asyk makan bubur tiba-tiba datang atau mas yosep yang tiba-tiba buka pintu.
Spertinya emba lilispun merasakan sensasi yang sama gilanya denganku karena dia tampak begitu bringas apalagi saat jemari tanganku menyentuh selangkanganya yang basah kuyup.
Hingga untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bisa berciuman, apalagi denga seorang wanita yang sangat cantik.
Jujur saja selama hidup aku belum pernah pacaran, karena aku tak pernah punya keberanian deketin cewe. Namun walaupun begitu bukan berarti aku tak tau sama sekali tentang dunia perlendiran karena dari SMP aku sudah kecanduan flm porno.
Jantungku semakin berdegup kencang saat emba lilis mengecup bahkan melumat bibirku, tentu saja aku langsung berusaha memberikan perlawanan sengit walaupun itu pertama kalinya bagiku.
Emba lilis yang sudah terbawa nafsu langsung meloroin lejing ketat besarta celana dalamnya, dan tentu saja aku merespon sangat baik dengan melakukan hal yang sama hingga bagian bawah tubuh kita sama-sama telanjang.
Lalu dia membuat tubuhnya condong kedepan, sambil berpegangan pada dinding kamar mandi.
“Masukin…!”
Dia melafakan satu kalimat itu tanpa bersuara.
Sudah pasti aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, dan akupun tak perduli lagi dengan kondisi dan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Maka akupun mengarahkan kepala kontolku pada celah selangkanganya, lalu perlahan tapi pasti akupun berusha mendorongnya namun seperitnya aku belum menemukan posisi yang tepat karena kepala kontolku seperti tertahan sesuatu.
Mungkin emba lilis menyadari kesulitanku, karena tanpa perlu ku minta dia semkain mencondongkan tubuhnya kedepan dan semakin merenggangkan kedua kakinya.
“Cepetan..!”
Kembali emba lilis berkata tanpa suara.
Tanpa buang waktu aku kembali mengarahkan kepala kontolku, dan kali ini saat ku dorong perlahan kepala kontolku seperti terjepit sesuatu yang basah dan hangat.
Gila rasanya sungguh nikmat, padahal baru kepala kontolku saja yang terjepit liang kewanitaan emba lilis.
Maka aku memundurkan pantatku sebagia ancang-ancang untuk menerobos lubang nikmat itu.
“argh….!”
Aku dan emba lilis kompak mengerang tertahan saat aku berhasil menancapkan dengan sempurna batang kontolku kedalam lubang nikmatnya.
Sungguh begitu nikmat rasanya, batang kontolku terjepit oleh sesuatu yang lembut basah dan hangat.
“Mah… pengen minum..”
Tedengar suara andika manggil ibunya dari ruang TV, yang sekaligus menghentikan kegilaan aku da emba lilis padahal saat itu aku baru saja mau genjot memek emba lilis.
Spontan aku mencabut kontolku karena panik dan kembali memakai kolor yang sempat tergeletak di lantai, emba lilispun tak kalah hebohnya bahkan dia berbegas menemui anaknya padahal lejing ketatnya belum terpakai sempurna.
Aku masih termenung di samping pintu kamar mandi sambil mengatur nafas, dan tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka.
“Eh.. endri nungguin kamu..!”
Sontak saja aku kaget bukan maen, jantung hampir copot rasanya.
“Iiiyaaaa mas kebeeelet.”
Jawabku, dan langsung berbegas masuk kamar mandi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar